JAKARTA | JacindoNews – Minggu (09/08/2026). Logo 81 tahun Kemerdekaan negara kita kali ini sungguh elegan dan mencerminkan optimisme serta semangat tinggi ditengah-tengah situasi dunia yang saling menahan diri dari berbagai pertikaian politik dan ekonomi dimana didalam negeri Indonesia sendiri pun tengah terjadi berbagai friksi saling “adu kuat” kepentingan faksi-faksi tertentu yang bermuara pada upaya kekuatan unjuk kekuasaan baik didalam pemerintahan maupun diluar namun masih berkolerasi dengan para pemangku kekuasaan itu sendiri baik di eksekutif, legislatif maupun yudikatif.
Dan sebagaimana yang rakyat saksikan bahwa di tengah berbagai upaya gencar membenahi kehidupan rakyat melalui pemerintahannya, Presiden Prabowo seakan mendapat “multiple damage” yang disebabkan perilaku tata kelola pemerintahan sebelumnya dibawah mantan Presiden Joko Widodo yang didistribusikan oleh para pembantu setianya sehingga berbagai pelanggaran perilaku seperti etika dan moral terkait peraturan dan kebijakan yang mencuat beberapa bulan setelah Presiden Prabowo memimpin negeri ini.
Ironisnya justru Jokowi kini dengan memanfaatkan kendaraan partai bernama PSI kembali berperilaku seakan masih menjadi pemimpin dinegeri ini dan secara tidak langsung seakan mempertontonkan kalau Presiden Prabowo itu tidak berarti dimatanya. Kesombongan yang berbalut kepura-puraan memakai wajah topeng kesederhanaan sebagaimana yang dilakoninya selama ini.
Maka bilamana kemudian Wapres Gibran yang notabene anak kandungnya sebagai alat mengambil bagian kekuasaan memang pantas bila penempatan duduknya dalam berbagai agenda negara tidak disandingkan disamping Presiden lagi.
Merusak wibawa dan kehormatan Presiden pemegang mandat rakyat oleh mantan presiden dalam wujud perilaku tak berucap adalah perbuatan tidak pantas, busuk dan licik yang mengingatkan kisah sejarah kekuasaan dimasa lampau era kerajaan-kerajaan.
Meskipun kerusakan tatanan ekonomi nasional tidak terlepas dari berbagai perbuatan atau perilaku mental oknum-oknum penguasa selama puluhan tahun lalu yang langsung atau tidak telah menjajah perikehidupan rakyat secara masif adalah dasar utama sebagai penyebabnya, namun penyebab malapetaka terbesar muncul dari ekses kepemimpinan Jokowi seakan membenarkan ucapan mantan wakil presiden Jusuf Kalla yang berujar “rusak negeri ini” bila dipimpin Jokowi dan nyaris terbukti kebenarannya.
Beruntung dengan jiwa Ksatria, ketenangan dan kecerdasannya, presiden Prabowo yang dalam beberapa bulan terakhir ini dikecewakan oleh para pejabatnya yang diberi tugas melaksanakan program nasional seperti MBG, Kopdes Merah Putih, serta pembenahan tata kelola kekayaan alam, tetap tegar menyaksikan betapa sosok “referensi” Jokowi adalah bagian penyamun kekuasaan yang dengan beringas dan serakahnya menggasak uang negara sedemikian besarnya.
Maka jelang memperingati 81 tahun NKRI merayakan kemerdekaannya, rakyat masih punya banyak harapan melihat berbagai langkah Presiden dan para pejabat-pejabat nya yang bersih hati dalam melaksanakan tanggung jawab morilnya dengan terus mengawal upaya mensejahterakan rakyat, membangun kehormatan dan wibawa negara dan bangsa ini ditengah komplotan koruptor yang terus dibersihkan.
**Adian Radiatus (Pengamat Sosial dan Politik).
