JAKARTA | JacindoNews – Dalam rangka menyambut hari Anti Islamofobia Dunia 15 Maret 2026 dan bulan Romadhan 1447 Hijriah, Aspirasi Indonesia bersama Gerakan Nasional Hari anti Islamofobia (GNAI) mengelar kegiatan Gerakan Taubatan Nasuha Nasional serta Buka Puasa Bersama dan santunan untuk anak yatim dan kaum dhuafa di gedung Dewan Dakwah,Senen, Jakarta Pusat, Minggu (15/03/2026).
Kegiatan ini dihadiri Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid, Ketua Umum Aspirasi Indonesia, Wati Salam, Ust. Alfian Tanjung, M. Hatta Taliwang, Ust. Nazar Haris (Ketua MOI), pakar hukum Eggi Sudjana, tokoh GNAI Nazar Haris, penulis buku Islamofobia Zulkarimein Nasution, Sekjen Dai Rantau Minang Dalmilus Sumagek, pengacara Muslim Meidy Juniarto, serta mualaf asal Inggris Ashley Welsh.
Kegiatan juga dihadiri anak-anak yatim, piatu, dan dhuafa binaan sejumlah lembaga sosial seperti Muhammadiyah dan Aisyiyah serta santri dari Pondok Pesantren Imam Syafi’i Ciomas.
Ketum Aspirasi Indonesia, Wati Salam biasa akrab dipanggil Bunda Wati merasakan jika negara Indonesia saat keadaannya sedang tidak baik
“Negara kita saat ini tidak dalam keadaan yang baik-baik saja karena hukum di Indonesia itu sepertinya hukum tajam kebawah tapi tumpul keatas”,ujar Bunda Wati
Saya menduga banyak dari orang yang kaya di Indonesia yang mereka telah menguasai banyak Kekayaan alam di Indonesia, maka untuk itu kami dari Aspirasi Indonesia pada hari ini mengajak untuk semua tamu undangan dan anak-anak yatim untuk sama-sama menjaga bumi Indonesia, kata Bunda Wati
Bunda Wati berharap kepada semua pemimpin, semua penjabat dan semua yang terlibat untuk bersama-sama bertobat dengan sesungguhnya kepada Allah dengan melakukan Gerakan Taubatan Nasuha Nasional agar kita semua dapat mencintai bumi kita dengan segenap hati.
Acara kegiatan di tutup dengan para peserta membacakan Deklarasi Gerakan Taubatan Nasuha Nasional yang dipimpin oleh Mak Jati sebagai komitmen moral untuk memperbaiki kehidupan bangsa.
Inilah lima point dari Deklarasi, yakni
- Integritas pribadi, yaitu memperbaiki diri dan membersihkan hati dengan menumbuhkan kejujuran, tanggung jawab, dan akhlak mulia dalam kehidupan pribadi maupun kehidupan berbangsa.
- Persatuan hakiki, yakni menjaga persatuan dalam keberagaman serta menolak segala bentuk kebencian, perpecahan, dan permusuhan.
- Melawan penindasan, yaitu menolak ketidakadilan, penindasan, serta segala bentuk penjajahan demi menjaga martabat dan kemerdekaan manusia.
- Perang terhadap korupsi, dengan melawan penyalahgunaan kekuasaan serta menjunjung tinggi integritas dan amanah rakyat.
- Mewujudkan keadilan sosial, yakni menghadirkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat tanpa diskriminasi UU.
Melalui peringatan tersebut, para peserta berharap kesadaran masyarakat terhadap bahaya Islamofobia semakin meningkat sekaligus memperkuat moralitas, keimanan, dan persatuan bangsa. (Rk).
