JAKARTA, Jacindonews – Ribuan umat islam datangi Mabes Polri untuk meminta hukum dan keadilan ditegakan.

GNPR (Gerakan Nasional Pembela Rakyat) menggelar aksi damai menuntut agar Kasus KM 50 diusut tuntas.
Selain GNPR, ormas-ormas islam dan ormas dan beberapa aliansi lainnya seperti GNPF, FPI, PA 212, PEJABAT, Brigade 411, Bang Japar, ASELI (Aliansi Selamatkan Indoneaia) hingga emak-emak ASPIRA juga hadir memadati Jl. Turonojoyo Jakarta Selatan.

Ketua presidium ASELI Jalih Pitoeng dalam orasinya meminta agar Kapolri Listyo Sigit Prabowo agar mengusut tuntas KM 50 yang menewaskan 6 Laskar FPI dan kasus Tragedi Berdarah di BAWASLU.

“Selaku pemegang otoritas tertinggi di Bhayangkara, kita minta Kapolri Listyo Sigit Prabowo untuk menuntaskan tentang kasus KM 50 dan Tragedi Berdarah di Bawaslu akibat dari Demokrasi Hitam yang mengakibatkan 9 tunas bangsa meregang nyawa. Satu diantaranya ananda kita Harun Al Rasyid” kata Jalih Pitoeng mengungkapkan dalam orasinya, Rabu (17/05/2023).

Jalih Pitoeng juga mengapresiasi langkah yang diambil oleh Kapolri terhadap Kasus Sambo atau Bigadir Josua Hutabarat.

“Saudara-saudara, kini kita diperkenalkan oleh makhluk asing yang baru kita dengar yaitu Mr. Obstruction Of Jastice. Kita juga harus objektif dalam menilai kinerja polisi. Kita sangat mengapresiasi Kapolri yang sedang berbenah diri” lanjut Jalih Pitoeng.

“Terkait dengan Novun atau temuan baru, baik sebagaimana yang Kapolri sampaikan saat dengar pendapat dengan Komisi III DPR RI maupun fakta persidangan Tedy Minahasa yang menyinggung terjadinya obstruction of Justice, maka kita minta agar Kapolri untuk mengusut kembali kasus KM 50” pinta aktivis Betawi Jalih Pitoeng.

Selain menuntut 2 kasus tersebut yang menurut Jalih Pitoeng adalah sebuah hutang negara yang harus segera dituntaskan, Aktivis yang dikenal sangat kritis inipun menyinggung tentang pemilu.

“Saudara-saudara, sebentar lagi kita akan menghadapi pemilu. Jangan sampai karena beda pilihan jadi perpecahan” kata Jalih Pitoeng melanjutkan.

“Untuk itu, kita minta kepada Kapolri dan Panglima TNI untuk menjunjung tinggi netralitas baik secara personal maupun secara institusional” pinta Jalih Pitoeng.

“Karena akhir-akhir ini saya melihat, mendengar dan mencermati bahwa ada yang beredar dimedia sosial khususnya channel youtube yang berpotensi terjadinya disintegrasi bangsa” sesal Jalih Pitoeng.

“Untuk itu saya minta kepada Kapolri, khususnya Cyber Crime untuk mengambil tindakan hukum. Jija itu dianggap telah melanggar pidana yang telah menyebarkan berita bohong maka pihak kepolisian harus menangkap agar ajang pemilu ini tidak berpotensi terjadinya disintegrasi bangsa. Untuk itu kita jangan mau diadu domba” pinta Jalih Pitoeng menegaskan.

“Saudara-saudara ku masih ibgat, bagaimana habibana Habib Rizieq Syihab yang mengungkapkan rasa syukurnya bahwa dirinya sehat, ditangkap dan ditahan karena dituduh melakukan penyebaran berita bohong” kenang Jalih Pitoeng menyesalkan.

“Untuk itu kita minta keadilan” imbuhnya seraya mengepalkan tangan dan berteriak Takbir.

“Kemudian kepada saudara-saudaraku para pendukung, relawan capres atau caleg tertentu, pilihlah sesuai hati nurani, jangan saling mengejek serta jangan mau diadu domba” pesan Jalih Pitoeng kepada peserta aksi.

Diakhir orasinya, Jalih Pitoeng yang mengajak orang tua dari almarhum Harun Al Rasyid ke atas mobil komando meminta agar agar tidak jadi bangsa pelupa dan meminta Kapolri mengungkap kasus tersebut.

“Atas nama orang tua korban, saya minta agar kita tidak menjadi bangsa pelups. Untuk kepada Kapolri kita minta untuk mengusut tuntas kasus Tragedi Berdarah di Bawaslu yang saya sebut sebagai hutang negara” pungkas Jalih Pitoeng menutup orasinya.

*(LI)

By Admin

error: Content is protected !!