BALI | Jacindonews – Kamis, (07/05/2026). Sebanyak lima puluh Bhikkhu atau Bhante tiba di Bali untuk melaksanakan “tekad suci” yaitu ritual berjalan kaki sebagai latihan kesabaran dalam upaya membebaskan diri dari kemelekatan duniawi atau dikenal dengan sebutan Thudong, dimana untuk kali ini dalam rangka memperingati Waisak 2570BE akan melintasi rute di Pelaksananya, Jawa Timur untuk kemudian memasuki Jawa Tengah khususnya Jogyakarta menuju ke Candi Borobudur yang telah diatur sedemikian rupa oleh Panitia Pelaksananya sehingga nantinya pada tanggal 31 Mei 2026 dapat bersama-sama umat melaksanakan ibadah menyambut detik-detik Waisak di Puncak Borobudur.

Berbeda dengan tahun sebelumnya dimana rombongan melalui rute Jakarta, Jawa Barat via Pantura dan kemudian Jawa Tengah, maka rute kali ini dirasa jauh lebih spiritualistik karena selain dimulai dari Pulau Bali yang tentunya dapat dikatakan ada nilai-nilai sama antara Hindu dan Buddha dalam konteks kepercayaan pada Hukum Karma dan Kelahiran kembali, tetapi juga penanganan oleh Panitia Pelaksana sangat terasa nuansa “Dharmayatra” nya dibandingkan dengan yang lalu dimana banyak catatan yang cukup memprihatinkan meskipun tetap sukses mengawal rangkaian perjalanan Thudong itu sendiri.

Tetapi tentu saja tidak perlu diperbandingkan terlalu jauh yang semakin terasa, tetapi justru kekurangan yang lalu menjadi bahan penting bagi Panitia Pelaksana kali ini, dimana diharapkan masyarakat khususnya umat Buddha dapat mengawal dengan jauh lebih tertib, agamais khas Buddhisme yang penuh pengertian dan toleransi.

Tidak butuh judul muluk-muluk, perjalanan kali ini dinamai “walk for peace” adalah sangat tepat ditengah situasi dan kondisi dunia yang tidak begitu menyenangkan atau membahagiakan umat manusia akibat selain perang juga berbagai bencana ekologi dan ekonomi tengah menghantui saat ini.

Karenanya Forum Buddhis Indonesia yang juga mengusung misi “Voice For Peace & Tolerance” sangat mendukung agenda perjalanan Thudong di Indonesia kali ini yang demikian tulus sesuai tujuan suci dari para pelaksana Thudong itu sendiri. Berjalan ratusan kilometer setiap hari dengan penuh cinta kasih bukanlah hal yang dapat dilakukan oleh banyak manusia dan karenanya perjalanan ini adalah salah satu ibadah terbesar dalam ajaran Buddha.

Oleh karena itu Panitia Pelaksana haruslah sungguh-sungguh penuh waspada mengawalnya agar tidak terjadi preseden yang tidak diinginkan apalagi bila ada agenda singgah dan Pindapatta diantara perjalanan menuju Borobudur ini. Semoga para Dewa dan Bodhisattva melindungi napak suci para Thudong disetiap langkahnya. (**).

**Adian Radiatus (Direktur FBI) 

By Admin

error: Content is protected !!