Oleh: Prof. Dr. Sutoyo Abadi
Mengakhiri apa pun dengan buruk tidaklah ada nilainya, tidak ada pembalikan
Menanamkan benih untuk kemenangan di masa depan dalam kekalahan dimasa sekarang adalah strategi paling brilian. Kemenangan dan kekalahan itu tergantung pada kita sendiri
Mungkin kita bisa belajar dengan keteguhan perjuangan rakyat Iran kepada sang pencipta:
– Bagaimana mereka secara mental menyerap kekalahan (embargo dan tekanan bertahun – tahun secara psikologis). Mereka hanya memandangnya sebagai kemunduran sementara. Menyambut kekalahan sebagai cara membangun dirinya akan lebih kuat.
– Ketika menerima tekanan yang sangat besar, mereka tetap tegak berdiri, tidak menunjukkan tanda kepahitan dan sikap membela diri, karena bukan manusia yang akan menentukan pada akhirnya.
– Ketika merasa dan melihat pasti kalah, sementara mereka mengikuti arus dunia untuk bangkit kembali untuk kemenangan dimasa depan.
Andai saja mereka takluk pada kelelahan, kebosanan dan ketidaksabaran, terbawa arus bujukan Iblis, mereka dan kita tidak akan sampai pada sasaran kemenangan yang hakiki
Jack Dempsey, petinju besar pernah ditanya “Ketika akan memukul lawan, apakah anda membidik dagunya atau hidungnya ?”. “Bukan keduanya”, demikian jawabnya “Saya akan membidik belakang kepalanya”. (Grandt T. Hammond, 2001).
Strategi apapun sesungguhnya tidak ada yang lebih sulit daripada menjaga pikiran tetap lurus, stabil dan tenang hingga akhirnya dan setelahnya.
Kemenangan dan kekalahan mereka yakini bersifat sementara, satu satunya akhir yang kongkrit hanyalah maut, segalanya yang lain hanyalah transisi.
Kalau kita konsentrasi secara eksklusif pada kemenangan tanpa merenungkan konsekuensinya, mungkin kita akan kelelahan memetik manfaat perdamaian yang hampir pasti buruk, kerena mengandung benih perang berikutnya. Inilah pelajaran yang didukung oleh banyak sekali pengalaman ( Strategy, B.H.Liddell Hart, 1954 ).
Sampai kapanpun manusia ( diketahui oleh para Malaikat ) sudah di takdir kan karena sifat iblis untuk terus bertengkar dan saling membunuh.
Kekalahan jangka pendek itu lebih baik daripada akan datangnya bencana jangka panjang. Hikmah adalah mengetahui kapan kita akan berhenti hidup.
Dalam usaha apapun, ada kecenderungan berpikir menang atau kalah, sukses atau gagal, sungguh berbahaya. Pikiran menjadi berhenti tidak memandang jauh kedepan, yang terjadi hanya bangga ketika menang dan pahit ketika kalah. Tidak memiliki pemahaman bahwa menang dan kalah standarnya setelah datang maut (kematian).
