IMG 20261015 WA0030

JAKARTA | JacindoNews – Kamis (15/10/2026). Bertubi-tubi beban persoalan menghampiri jalur Dinasti politik Jokowi yang akhir-akhir ini mencoba berdiri tegak lewat Partai PSI yang ber-ikon Gajah Putih itu dimana lewat kunjungan ke daerah tertentu mencoba “menjual” diri mencari sensasi dukungan rakyat dan tentu saja pengerahan massa adalah sesuatu yang tidak berdampak murni pada kepentingan suara rakyat.

Namun baru saja langkah itu dimulai, masalah yang barangkali tidak pernah diduganya sama sekali terkait sang putra, Gibran Rakabuming Raka, yang ketika kontestasi Pilpres 2024 berhasil disusupkan sebagai alat tawar politik kepada Koalisi Capres Prabowo Subianto dengan memakai kapasitas kekuasaannya yang besar ketika itu hingga ada yang menyembahnya sebagai Raja Jawa.

Jokowi kini harus melihat dan menerima kenyataan bahwa Gibran tersandera oleh skandal “Ijazah-gate” dimana ada kemungkinan Jokowi sendiri pun tidak paham kalau anak yang dikirimnya sekolah keluar negeri itu tidak memiliki ijazah resmi sebuah perguruan tinggi manapun kecuali dokumen kehadiran kuliah sebagaimana tercantum dalam amar keputusan MK tersebut. Tentu saja itu bukan bukti ijazah kelulusan.

Bila benar demikian maka situasi kekaburan kronologis masa kuliah Jokowi dan Gibran kalau memakai ungkapan awam adalah “sebelas-duabelas” alias serupa meski tak sama, dan secara hukum alam inilah yang dinamakan buah karma tiba pada saatnya dan akan sangat menyakitkan tak terkira ketika kenyataan muncul memperlihatkan kebenaran atas sebuah perbuatan buruk, curang dan menipu.

Apakah Jokowi akan mempunyai jalan keluar melihat dari hari ke hari pasca keputusan MK menunjukan eskalasi penolakan atas kedudukan Gibran sebagai Wapres semakin masif terkhusus terlihat diberbagai laman media sosial dimana berbagai sindiran, pencibiran dan hinaan serta caci maki menolak eksistensi ke-wapres-annya hingga menuntut pengunduran dirinya secara ksatria daripada lewat pemakzulan oleh DPR & MPR.

Jalan keluar yang paling elegan dan terhormat adalah sebagaimana banyak disuarakan publik baik tokoh nasional, pakar maupun aktifis adalah mengundurkan diri atau legowo secara penuh kesadaran dan bertanggung jawab. Seorang pemimpin apalagi masih muda belia dengan masa depan yang panjang hendaknya tidak berbuat kesalahan fatal terhadap bangsanya.

Situasi kehidupan Jokowi seketika menjadi semakin runyam, setelah kasus terkait keabsahan Ijazahnya yang tak pernah selesai hingga saat ini tetiba harus menghadapi dilematis yang lebih parah dari yang menimpa dirinya terkait hal yang sama, hanya beda judul saja.

Selama ini Jokowi dengan tampilan lugunya merasa paling hebat dan berkuasa, mampu mengendalikan seorang Presiden penerusnya, banyak pendukung mulai dari elite papan atas yang biasa disebut konglomerat, politikus, akademisi, aktifis bahkan profesional yang sebenarnya saling mengisi kepentingan saja, bukan dukungan idealis.

Bahkan warga yang dikerahkan berkunjung ke kediamannya pun ditengarai hanya untuk menenangkan mentalnya yang secara psikologis sangat tertekan pasca pemecatan secara tidak hormat oleh PDIP, salah satu partai terbesar jasanya dalam melambungkan dirinya menduduki kursi paling mulia di negeri ini.

Sehingga tidaklah berlebihan bila situasi Jokowi terkini adalah antara terjebak oleh sepak terjang keserakahannya yang haus akan kekuasaan, dimana tanpa disadari telah membawa dirinya tersesat di belantara kebohongan atas ilusi kekuasaan dengan apa yang putranya hadapi persis serial drama kejahatan politik adu kekuatan kekuasaan dimana dia lupa diri kalau sudah bukan lagi sebagai pemimpin negeri ini bahkan bila terus berlakon liar besar kemungkinan akan berakhir sebagai pecundang belaka. (**).

**Adian Radiatus (pengamat sosial & politik). 

Admin

By Admin

error: Content is protected !!