IMG 20260217 WA0146

JAKARTA | JacindoNews – Sebuah renungan memasuki Tahun Baru Imlek yang demikian khas penuh nuansa kemeriahan Budaya Tionghoa sungguh menjadi wacana yang mumpuni untuk melihat bagaimana perhitungan astrologi Tionghoa yang tahun ini memasuki Tahun Kuda dengan unsur Api adalah sebuah keniscayaan bagi bangsa-bangsa didunia terutama bangsa Indonesia yang telah menerima kehadirannya selama ratusan tahun namun di penuhi nuansa keprihatinan secara kolektif meskipun selalu disyukuri sebagai momentum pembaharuan yang terasa tak kunjung berakhir, khususnya bagi entitas Tionghoa itu sendiri.

Itulah sebabnya mengapa nasib sebuah bangsa senantiasa menjadi pertanyaan mendasar di tengah hiruk pikuk pergolakan ekonomi dan politik dimana kemajuan dan kemunduran seakan terus berlomba di tengah kancah pergolakan pembangunan negeri tercinta ini, padahal filosofi Pancasila sebagai dasar berbangsa dan bernegara telah sedemikian realistis, lengkap, utuh dan hampir tiada noda dalam pengejawantahannya.

Namun realita politik dan ekonomi yang berkembang dari satu kurun waktu tertentu dan dari suatu masa pemerintahan ke pemerintahan selanjutnya tampak terasa jelas dinamika masyarakat Tionghoa menjadi tonggak catatan pengorbanan dan perubahan dalam strata kondisi dinamis perjalanan bangsa ini sendiri.

Dengan tidak bermaksud membuka luka lama termasuk ketimpangan didalam kehidupan masyarakat yang majemuk ini, tidak dapat dipungkiri bahwa perjuangan politik dan ekonomi rakyat senantiasa membawa mata rantai kultur Tionghoa pada posisi “maju kena mundur kena”, maka apa yang terjadi pasca Reformasi 98 telah terjadi perubahan yang sangat signifikan dimana eksistensi masyarakat Tionghoa mendapatkan tempatnya yang layak, wajar dan selaras sebagai bagian anak bangsa terbesar ke empat didunia ini.

Kini setelah lebih dari dua puluh lima tahun pasca reformasi kiranya situasi sosial politik negara kembali mendapat ujiannya ketika pemerintahan Kabinet Merah Putih dibawah Presiden Prabowo Subianto terlihat menaruh perhatian khusus pada peningkatan ekonomi rakyat secara sungguh-sungguh, maka menjadi pertanyaan menarik dimana dan apa kiranya peranan masyarakat Tionghoa terkhusus para tokoh-tokoh dan pengusaha-pengusahanya yang memiliki asset kemampuan berkontribusi bagi tujuan pemerintahan ini.

Tentu saja ini bukan tentang kontribusi sosial semata-mata tetapi apa yang dikehendaki pemerintahan Presiden Prabowo ini bukanlah secara searah belaka melainkan bagaimana tim politik dan ekonomi kepresidenan dapat memberikan keleluasaan dialog secara komprehensif terkait begitu banyak aspek yang seharusnya dapat dirumuskan bersama-sama sehingga bukan hanya tindakan seporadis semata-mata.

Pertemuan Presiden dengan sejumlah pengusaha Tionghoa papan atas negeri ini adalah lebih baik dilakukan pula pada para pengusaha lapis kedua dan ketiga tidak hanya terbatas kalangan Tionghoa saja, sehingga upaya pergerakan membangun perekonomi ini berkekuatan politik yang selaras dan serasi, bukan sebaliknya tekanan politik yang mengharuskan partisipasi perputaran percepatan ekonomi ini baik makro maupun mikro.

Dengan demikian dapat diharapkan momentum Tahun Kuda Api ini yang membawa energi kemajuan pesat, kecepatan dan ketangguhan serta semangat kebersamaan ini menjadi bara menuju cita-cita kemajuan kesejahteraan ekonomi dan kekuatan politik sebagai bangsa dapat hadir dan tercermin dalam waktu cepat.

Berbagai problematik ketidak adilan dan ketidak sesuaian program pemerintah dalam implementasinya harus sungguh-sungguh ditinjau ulang, seperti MBG yang meskipun bukan pemborosan APBN tetapi hasil efisiensi anggaran adalah kurang tepat dan bijaksana bila ternyata unsur manipulatif penyelenggaraannya sebagaimana terkait margin para pemasok dan realita menu yang belum tersinkronisasi secara profesional tidaklah dapat ditolerir setelah berjalan setahun lebih ini. Tentu saja ini bukanlah tentang menghapus program tetapi lebih kepada menerapkan tugas mulia mencerdaskan anak bangsa secara hati nurani kolektif kolegial secara terbuka, transparan dan jujur sejujurnya.

Ini adalah salah satu contoh bagaimana cara pandang suatu program besar dan mulia dapat menjadi contoh bagi para tokoh dan masyarakat yang tampaknya dapat menjadi trigger atau pemicu agar ke-enggan-an berpartisipasi yang terasa secara halus terjadi akhir-akhir ini dapat termotivasi dengan lugas dan sekali lagi membuka keterlibatan dialog dan perbaikan tanpa harus menyalahkan para pelaksana semata, tetapi justru menjadi titik langkah untuk berlari mengejar segala ketertinggalan yang diakibatkan oleh kebingungan memulainya sementara peluang di Tahun Kuda Api ini demikian besar dan luas untuk dipacu bagaikan kuda yang hampir tak mengenal lelah menuju tujuannya.

Dan hal ini menggaris bawahi bahwa berpolitik dan berekonomi bangsa bukanlah sebuah ceremonial belaka tetapi menjadi sebuah budaya bangsa yang gigih mencapai tujuannya sebagaimana Imlek juga adalah sebuah budaya kekeluargaan, bagian sebuah keluarga besar yang tidak terpisahkan bernama Bangsa Ibdonesia.(**)

**Adian Radiatus (Aktivis Tionghoa, Pengamat Sosial Politik). 

Admin

By Admin

error: Content is protected !!