JAKARTA | JacindoNews – Rabu (04/02/2026). Pertemuan Presiden Prabowo dengan sejumlah aktivis atau tokoh nasional yang mungkin diantaranya acapkali berkritik “keras” atas keadaan negara ini seperti Said Didu, Abraham Samad dan Susno Djuadi juga ada pegiat lainnya untuk yang kalau boleh dikatakan “menampung” masukan dari sisi “out of the box” yang kebetulan belum ini menjadi bagian 50 orang aktivis serupa berkumpul di kediaman Said Didu.

Namun alih-alih dipandang sebagai upaya atau bahkan strategi Presiden terhadap keinginannya menjaga persatuan dan kesatuan sesama anak bangsa yang sama niatnya meski berbeda pandangan dengan melihat apa yang mereka lihat terhadap pemerintahannya ini. Mereka bukan pelawak apalagi sampah masyarakat karena dengan diterima Presiden bahkan dikediaman pribadinya menunjukan konsistensi Presiden terhadap garis kebijakan moralnya itu.

Maka bila menelisik ulasan aktivis Zeng Wei Jian dalam laman facebooknya yang mengutip info dari Edy Mulyadi kalau saat pertemuan itu Presiden hanya didampingi “Hambalang Boyz” sementara Don Dasco tidak ada, hal ini tidak boleh membias pandangan seolah Don Dasco wajib selalu mendamping Presiden sebab kalangan internal juga mahfum kalau Don Dasco sering diminta pandangan atau pendapatnya oleh Presiden Prabowo dalam banyak masalah sejenis atau yang lebih kompleks dihadapinya.

Disamping itu penjelasan terkait deklarasi lawan 9 Naga yang infonya disampaikan oleh Abraham Samad namun belum terkonfirmasi malah menunjukan sensasi politik murahan apalagi buru dan bakar oligarki, tidak ada pola politik Presiden Prabowo semacam itu. Musuhnya hanya dua, pertama, koruptor, kedua, penghianat negara.

Jadi bila memang benar hati bulat dan utuh memahami dan mengerti arti Tegak Lurus bersama Presiden Prabowo Subianto sudah seharusnya memahami dan memberi literasi yang mendukung setiap langkah Presiden setelah tahun pertama dilalui dengan banyak oportunis bermain dibelakang layar.

Kesan menggurui meski tanpa sadar, mana boleh mana tidak oleh Presiden, apalagi dengan argumen berbasis sentimentasi buruk sangka, sementara secara pribadi Presiden pun belum melakukan konsolidasi internalnya bukanlah cara yang elok sebagai bagian pendukung yang soliditasnya tak goyah oleh intrik apapun.

Segenap jajaran tim Kepresidenan dan pendukung berintegritas tinggi mestinya mahfum dan percaya penuh kalau setiap langkah Presiden memiliki nilai strategi dalam arti positif, Presiden bukanlah bermental “jual beli” sapi atau whatever to say. Tidak perlu alergi sekalipun mungkin terkait keputusan yang sudah sangat lama dirindukan rakyat terkait reformasi dan transformasi Polri dalam arti seluas-luasnya. (**)

**Adian Radiatus (pengamat politik dan sosial). 

By Admin

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!