JAKARTA | JacindoNews – Ada beberapa Menteri dengan kinerja sangat merakyat, ada beberapa Menteri dengan kinerja berbasis profesional, ada beberapa Menteri dengan kinerja “wait and see”, ada beberapa Menteri dengan kinerja “pura-pura” , ada Menteri dengan kinerja “seenaknya” dan maksud dari kata Menteri ini juga pada Pejabat setingkat yang diangkat sebagai “Pembantu” Presiden.
Yang mau saya bilang adalah adalah situasi Kabinet Merah Putih dibawah Presiden Prabowo telah tidak menggambarkan kepada rakyat bahwa banyak diantara mereka hanyalah orang pandai berpolitik baik demi derajat hidup belaka, mental SSD (Sangat Senang Disanjung / keatas ABS), pun demi eksistensi diri dan partai dan kelompoknya. Alhasil mereka memberikan gambaran Presiden tidak realistis, Presiden tidak mengetahui denyut asli keadaan rakyat, Presiden terlalu percaya pada Menteri tetapi tidak pada suara rakyat yang nyata-nyata menyampaikan keadaannya yang sangat berbeban seakan tidak dihiraukan.
Ironisnya sekarang yang berbeban berat sudah merasuk ke masyarakat menengah, dapat dibayangkan bagaimana dengan masyarakat bawah? Ini sudah bukan tentang mendapat kesulitan penghasilan tetapi kesulitan melihat bahkan merasakan keadilan akan gerak kehidupan sehari-hari.
Apakah para Menteri ini tidak tahu (ada yang tahu tapi pura-pura tidak tahu) bahwa itu perilaku oknum-oknum disana sini selalu saja muncul menganiaya keadilan rakyat.
Rakyat pun tahu Korps Kepolisian tengah dalam proses pembenahan tapi celaka ketika secara terbuka ada terlihat friksi yang mencengangkan rakyat (intelektual) pun bagaimana TNI berusaha keras membantu Pemerintahan ini membenahi begitu banyak celah birokrasi yang dikoyak-koyak para oknum disana yang pastinya soal berlomba mengisi pundi brangkas dan rekening yang semestinya turun ke Rakyat.
Hadeuuh, berat sekali mau menelanjangi keadaan mental busuk yang akut tak kasat mata kalau tidak ditindak seperti langkah Menteri Keuangan dan Gubernur Malut itu. Lantas bagaimana itu perusahaan Pinjol yang bermarkas diluar negeri dengan kaki tangan debt colektor menganiaya kehidupan rakyat pas-pasan namun terdesak kebutuhan, tidak diperiksa itu aplikasi2 terselubung yang mestinya tiap menit dipantau karena masifnya digital online “never sleep” itu.
Dengan segala hormat, Presiden kini di tengah situasi dilematis terkait BOP karena perkembangan tampak tidak sesuai dengan kata “Peace” yang dikumandangkan presiden Trump itu, belum lagi rakyat semakin bersuara tentang anggaran MBG, proyek mulia yang tidak terasa mulia ketika perhitungan anggaran dengan apa yang dikonsumsi anak-anak seakan seperti proyek bisnis lewat perut anak sekolah saja. Tentu Presiden tidak bisa memantau medsos melulu, para pembantu atau asisten atau sekretaris pribadi atau anggota keluarga pun sulit untuk mengurai kasus-kasus yang mencuat menjadi intrik-intrik saling tuding yang akhir-akhir ini semakin mencuat perbincangan “negara sedang tidak baik-baik saja”.
Siaga 1 yang dimaksud sebagai mengamankan roda aktifitas kehidupan rakyat pun telah menjadi bahan pemahaman yang lain bagi rakyat diatas maupun dibawah, jadi hadeuuh mau bicara bagaimana terhadap Presiden yang harus kita dukung mandatnya sesuai konstirusi bila keadaan semakin gamang saja.
Para pengusaha baik nasionalis maupun tradisionalis papan atas menengah juga bawah bukan tidak ingin membantu perputaran roda ekonomi negeri tercinta ini, tetapi friksi Politik sudah terlalu melebar seakan serasa “ada api dalam sekam”. Jadi yang ada saat ini hanya, ya sudah jalani saja yang bisa dijalankan, keadaan dunia boleh kacau tetapi pemeritahan harus terlihat sungguh kuat mempresentasikan Perlindungan Penuh Bagi Rakyat tanpa terkecuali, tetapi anehnya ada 105 ribu pesanan kendaraan operasional Koperasi Merah Putih yang dibeli dari negara luar, bagaimana logika ini dapat masuk ke hati nurani rakyat kecuali berita ini tidak benar tapi sepertinya sudah terparkir rapi di pelabuhan?
Ayolah bapak ibu para tokoh dan pelindung rakyat mencari formula bagaimana menyampaikan kepada Presiden semua situasi ini dengan rendah hati dengan segala hormat, dengan segala sisa cinta kasih yang masih ada dihati berjuang bagi sebuah kepedulian karena meskipun korban bencana alam yang lalu ditangani dengan baik, meskipun langkah pemberantasan koruptor berjalan, pembangunan sekolah rakyat juga hadir, tetapi bila yang dirasakan rakyat hampa di pikiran, dihati bahkan di perutnya, apakah arti semua itu, mulailah membereskan para Menteri dan Pejabat setingkat Pembantu Presiden yang tidak punya hasrat kepedulian, yang Tidak Peka sebagai pejabat Negara terhadap rakyatnya.
**Adian Radiatus (pengamat sosial & politik).
