IMG 20260928 WA0067

JAKARTA | JacindoNews – Senin (28/09/2026). Sebuah ulasan yang bias dan terkesan adanya upaya “adu domba” menciptakan konflik lewat narasi media sosial (create conflict by social media) yang dinarasikan oleh pengamat yang mengaku “wong ndeso” mengulas kunjungan resmi Presiden ke Pondok Pesantren Modern Gontor Ponorogo sebagai bahan “hinaan” karena dikatakan tidak benar-benar disambut dengan puja puji, melainkan dengan lantunan Surat Al-Ahzab ayat 70-73 sebagai peringatan keras dari langit.

Hal itu dikatakan sebagai _*qaulan sadida*_ yakni perkataan yang benar, jujur, lurus, tegas, dan tepat. Tentu saja dilihat dari konteks penyambutan yang menghormati kedatangan seorang pemimpin Negara dengan melantunkan ayat suci Surat Al-Ahzab apalagi dengan tegas ayat 70-73, maka itu dapat dimaknai bahwa pertanda langit lewat Pemimpin dan Umat Gontor secara tidak langsung ingin menyampaikan inilah kedatangan pemimpin yang perkataannya benar, jujur, lurus, tegas, dan tepat itu. Dan bukan sebaliknya!

Lagipula sekelas Gontor yang Modern pastilah memiliki nilai-nilai makna spiritual yang lebih tinggi dari kebanyakan pada umumnya, sehingga tidak mungkin memakai Ayat Suci sebagai alat untuk merendahkan martabat seorang pemimpin rakyat yang tengah mengurus negaranya siang dan malam.

Bahwa kemudian ingin menghubungkan ketegasan Presiden Prabowo dalam beberapa pidatonya yang terkesan emosional bukanlah dapat dimaknai kasar atau ketus terhadap rakyat, terhadap merely yang benar-benar mengabdi dan bersumbangsih pads bangsa dan negaranya sekecil apapun, tetapi pasti ditujukan kepada oknum-oknum yang memang tidak lagi dapat ditolerir segala perbuatannya yang buruk, yang hanya menghasut, yang tidak senang melihat negara dan bangsa ini menuju ke baikan dan kemajuan bersama-sama, bukan hanya pada segelintir atau sekelompok orang saja.

Belum pernah selama pasca reformasi, rakyat dapat menyaksikan begitu fokus dan dalamnya Presiden sejak mendapat amanat rakyat dua tahun lalu bekerja dengan segenap hati dan jiwa, membangun kepercayaan, membenahi masalah krusial yang ditinggalkan pemimpin sebelumnya karena keterbatasan sumber daya manusia yang dapat dipercaya dan kemudian Presiden Prabowo bagaimana berusaha keras menyatukan para pemimpin, berusaha untuk bersinergi dalam segala bidang sehingga rakyat dapat merasa sejuk meski ditengah-tengah gejolak geo-politik dan ekonomi yang membuat rakyat membutuhkan perlindungan sebagaimana yang dirasakan kini.

Bukannya rakyat tidak boleh mengkritik bahkan marah sekalipun, tetapi lakukanlah itu dengan cara-cara budaya yang terhormat, saling menghargai, memberikan bukti konkrit untuk menuntut Presiden melakukan langkah kebijakan terbaiknya sebagaimana juga Pondok Gontor melantunkan ayat itu sebagai sebuah pujian dan bukan kemarahan apalagi tidak menghormati tamu undangannya, pastilah keliru upaya mendegradasi hubungan hingga serendah itu. (**).

 

**Adian Radiatus (pengamat sosial dan politik). 

Admin

By Admin

error: Content is protected !!