JAKARTA | JacindoNews – Sabtu (1710/2026). “Dimana ada kebaikan, kemajuan dan keberhasilan, maka disana pula muncul para penghalang untuk menggagalkan bahkan mematikannya”, demikianlah ungkapan jalur kehidupan manusia yang kiranya tepat dilekatkan pada apa yang tengah dihadapi Presiden Prabowo Subianto dan pemerintahannya kini pada fase pengrusakan yang dilakukan oleh tangan-tangan haus kekuasaan, kaum berjiwa serakah, oportunis sehingga berbagai cara berupaya menciptakan kondisi “antipati” pada khususnya Presiden Prabowo.
Kita namakan saja kelompok ini sebagai “shadow opposition” atau SO yang mirisnya tidak hanya ada diluar tapi juga didalam pemerintahan itu sendiri, mereka bekerja seakan mewakili tugas negara yang dipercayakan Presiden, tetapi secara diam-diam berkonsolidasi dengan sesama SO lewat jaringan pertemuan informal.
Sementara Presiden berpikir dan berupaya keras bagaimana menolong dan membangun bangsa ini menjadi besar dan bermartabat, mereka justru berupaya keras bagaimana membuat kelompoknya yang muncul seolah-olah sebagai penyelamat sekaligus memperlihatkan seakan Presiden salah mengambil langkah.
Cipta kondisi buruk terus dilancarkan betapa pun Presiden sudah persuasif terhadap kelompok-kelompok ini dimana sudah menjadi rahasia umum bahwa jaringan Grup Solo tidak pernah “tidur nyenyak” melihat kebijakan dan langkah Presiden apalagi akhir-akhir ini kekuatan mereka seakan terpreteli satu per satu dengan tanpa terlihat gejolak apapun, setidaknya dimata awam.
Serangan berbasis aktifitas ekonomi dan perusakan moral termasuk sumber daya alam seperti kebakaran hutan menjadikan celah-celah untuk mendiskreditkan Presiden dibelakang layar mereka. _”Penghianat tak pernah jera apalagi berhenti”._
Tidaklah mengherankan mengingat kursi singgasana sang putra yang diharapkan menjadi tiang penopang merebut kekuasaan berikutnya malah menemukan bencana pada jalur hukum konstitusi negara yang selama ini diabaikan dan bahkan dipermainkan mereka karena ada paman yang tidak bisa dituding apalagi dituntut, namun borok itu muncul sesudahnya lewat maladministrasi syarat pendidikan sebagaimana Mahkamah Konstitusi itu sendiri yang justru smembuktikannya.
Berbagai problematik negara dicoba dimanfaatkan para mafia dibelakang grup Solo itu dan menjadikannya sebagai topik kegagalan Presiden dalam memimpin negeri ini, dimana kelangkaan BBM pada beberapa daerah, pasokan listrik yang terhenti cukup lama, kebakaran hutan, jatuhnya IHSG di lantai Bursa akibat status yang diberikan oleh MSCI dan memanfaatkan isyu pemborosan anggaran MBG dan Kopdes meskipun tengah dibenahi oleh pemerintah.
Memang tak dapat dipungkiri banyak kalangan yang menilai keliru seakan Presiden Prabowo lemah bersikap dalam menghadapi gerombolan mafia perusak negeri ini, namun sejatinya pemimpin yang telah mengalami banyak tempaan penghianatan, konspirasi dan agitasi pribadi maupun institusi partainya tidaklah mungkin hanya memakai emosional belaka.
Prabowo dipastikan akan menghadapi lawan baik SO maupun frontal yang tidak dapat lagi ditolerir pada fase upaya pengrusakan kepercayaan publik akan integritas kepemimpinannya ditengah tujuh puluh lima tahun pencapaian usia dirinya kini. (**).
**Adian Radiatus (pengamat sosial & politik).
