JAKARTA | JacindoNews — Jakarta Film Week 2026 resmi dibuka pada Rabu (21/10/2026), menandai dimulainya lima hari perayaan sinema yang mempertemukan pembuat film, penonton, komunitas, dan pelaku industri dari Indonesia maupun berbagai negara. Acara Opening Ceremony berlangsung di CGV Grand Indonesia.
Memasuki penyelenggaraan tahun keenam, festival berlangsung pada 21–25 Oktober 2026 dengan mengusung tema Encounters. Melalui rangkaian pemutaran film, diskusi, kelas kreatif, dan program pengembangan industri, Jakarta Film Week menghadirkan ruang bagi beragam cerita dan perspektif untuk bertemu. Festival ini juga menjadi bagian dari upaya memperkuat ekosistem perfilman Jakarta, mulai dari akses publik terhadap film hingga kesempatan bagi talenta lokal untuk mengembangkan karya dan membangun jejaring.
Penonton bisa menyaksikan 157 film dari 59 negara dan rangkaian acara lainnya yang akan berlangsung di CGV Grand Indonesia, CGV FX Sudirman, Taman Ismail Marzuki, Mercure Jakarta Cikini, Paviliun Raden Saleh, Artotel Curated dan FX Sudirman.
Jakarta Kota Cinema: Memperkuat Ekosistem Perfilman Ibu Kota
Penyelenggaraan Jakarta Film Week 2026 mendukung misi Jakarta Kota Sinema. Dukungan ini menempatkan perfilman tidak hanya sebagai kegiatan produksi dan pemutaran karya, tetapi juga sebagai bagian dari kehidupan kota yang melibatkan masyarakat, komunitas, talenta kreatif, dan pelaku industri.
Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, menyampaikan, “Jakarta berkomitmen memperkuat ekosistem perfilman, mengembangkan talenta, dan memperluas akses masyarakat terhadap film. Melalui Jakarta Film Week, kami ingin mendorong Jakarta menjadi kota sinema yang membuka ruang bagi sineas, industri, dan penonton untuk tumbuh bersama.”
Sementara itu, Fadli Zon, Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, mengatakan, “Jakarta Film Week menjadi salah satu ruang penting untuk mendorong pertumbuhan perfilman nasional, membuka kesempatan bagi sineas untuk memperkenalkan karya, memperluas kolaborasi, serta membawa sinema Indonesia terhubung dengan komunitas film internasional.”
Tema ENCOUNTERS menjadi benang merah penyelenggaraan festival tahun ini. Tema tersebut mengangkat perjumpaan melalui sinema, antara film dan penonton, pengalaman yang berbeda, serta pembuat film dan pelaku industri yang bertemu dalam ruang festival.
Festival Director Jakarta Film Week 2026, Rina Damayanti, mengatakan, “Kreativitas membutuhkan ruang bagi berbagai gagasan untuk bertemu dan berkembang. Melalui Jakarta Film Week, kami ingin menghadirkan ruang pertemuan antara cerita, pembuat film, dan penonton, tempat perspektif baru ditemukan dan kolaborasi dapat tumbuh dari
percakapan sederhana.”
Ah Girl Membuka Perayaan Sinema
Film Ah Girl karya sutradara Singapura Ang Geck Geck Priscilla menjadi film pembuka
Jakarta Film Week 2026. Film panjang pertama Priscilla ini berlatar Singapura pada 1994 dan mengikuti kehidupan Swee Swee, seorang anak perempuan berusia tujuh tahun yang diperankan oleh Xuanjing Ong, dalam menghadapi dinamika keluarga dan memahami dunia di sekitarnya.
Pembukaan Jakarta Film Week 2026 turut dihadiri oleh Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno, Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Fadli Zon, aktor dan filmmaker ternama Sammo Hung dari Hong Kong, perwakilan beberapa kedutaan besar, para juri, filmmaker dan aktor, tamu internasional, pelaku industri perfilman, mitra, serta undangan lainnya.
Acara dibuka dengan rangkaian sambutan dari perwakilan pemerintah dan penyelenggara, dilanjutkan dengan pemutaran Ah Girl yang menandai dimulainya lima hari perayaan sinema
dengan beragam cerita, perspektif, dan latar budaya.
Aktor Legendaris Sammo Hung Hadir melalui JFWNET–Industry Program, Menghadirkan Warisan Sinema Aksi Hong Kong
Kehadiran Sammo Hung menjadi salah satu sorotan dalam pembukaan Jakarta Film Week 2026. Aktor, sutradara, produser, dan koreografer laga asal Hong Kong ini dikenal atas kontribusinya terhadap perkembangan sinema aksi Hong Kong selama lebih dari enam dekade. Karyanya turut membentuk pendekatan koreografi laga yang memadukan seni bela diri dengan unsur komedi, horor, dan berbagai genre lainnya.
Sammo Hung disambut oleh Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno dan Menteri
Kebudayaan Republik Indonesia Fadli Zon dalam seremoni pembukaan festival.
Kehadirannya menjadi bagian dari upaya Jakarta Film Week untuk membuka ruang
pertukaran pengetahuan dan pengalaman antara pelaku perfilman Indonesia dan tokoh
sinema internasional.
Melalui JFWNET–Industry Program, Sammo Hung juga berbagi pengalaman dalam sesi
Masterclass bertajuk Encounters of the Martial Mind: A Masterclass with Sammo Hung. Sesi ini mengangkat perjalanan kreatifnya dalam dunia seni bela diri dan perfilman, termasukbbagaimana koreografi pertarungan dikembangkan menjadi bagian penting dari bahasa sinematik. Dengan kapasitas sekitar 500 peserta, sesi ini menjadi kesempatan bagi sineas, mahasiswa, dan pencinta film untuk mengenal lebih dekat proses kreatif di balik sinema aksi Hong Kong.
Program sinema Hong Kong turut hadir melalui rangkaian Made in Hong Kong, yang
menampilkan film-film dari Hong Kong, termasuk karya-karya yang berkaitan dengan perjalanan Sammo Hung seperti Encounters of the Spooky Kind, Eastern Condors, dan The Bodyguard. Rangkaian ini dilengkapi pameran A Tale of Two Cities: Hong Kong x Jakarta di FX Sudirman, yang mempertemukan perspektif kedua kota melalui film dan budaya visual. (Ril/).
