IMG 20260925 WA0099

JAKARTA | JacindoNews – Jumat (25/09/2026), Studio XXI Epicentrum, Kuningan, Jakarta, diadakan Press Conference dan Gala Premiere Film horor “Lobang Buaya”, yang akan ditayang di bioskop di Indonesia 1 Oktober 2026.

Film besutan sutradara Hanung Bramantyo menampilkan peristiwa horor mencekam dan berlatar belakang sejarah berdarah peristiwa 30 September 1965. Kolaborasi berani antara dua rumah produksi ternama tanah air, Adhya Pictures dan Dapur Film, resmi memperkenalkan karya sinema fiksi sejarah paling mencekam tahun ini.

Ajang Gala Premiere ini tidak hanya menjadi panggung unjuk gigi karya berkelas, tetapi juga dihadiri langsung oleh sang nahkoda kreatif, sutradara Hanung Bramantyo, serta deretan jajaran pemeran utama yang tampil memukau: Baskara Mahendra, Carissa Perusset, Anya Zen, hingga sang aktor watak legendaris kebanggaan Indonesia, Mathias Muchus.

Mengambil latar waktu yang sangat sensitif dan krusial, tepat satu tahun sebelum meletusnya tragedi paling berdarah dan traumatis dalam memori kolektif bangsa Indonesia pada 1965, film Lobang Buaya menolak untuk sekadar menjadi tontonan horor gaib biasa. Alih-alih hanya mengandalkan penampakan setan, alur cerita berfokus pada perburuan dingin seorang perwira muda, Letnan Soegeng (diperankan dengan sangat intens oleh Baskara Mahendra). Letnan Soegeng diterjunkan langsung ke wilayah terpencil Desa Lobang Buaya untuk mengusut sebuah kasus kriminal besar yang menggetarkan pucuk pimpinan militer. Satu per satu orang penting dan tokoh berpengaruh di desa tersebut ditemukan tewas dengan kondisi mengenaskan dan sayatan luka bermotif ganjil.

Hanung Bramantyo Menegaskan Batas Antara Fiksi dan Tragedi Sejarah
Dalam kesempatan ini, menanggapi sorotan publik seputar pendekatan artistiknya, Hanung Bramantyo secara terbuka menyampaikan bahwa ia memahami mengapa penggunaan genre horor dalam film Lobang Buaya menimbulkan pertanyaan. Karena itu, sang sutradara menjelaskan terlebih dahulu bahwa film ini bukan karya yang mencoba menceritakan kembali tragedi 30 September 1965, apalagi menjadikannya sebagai tontonan horor.

Horor dalam film ini ditegaskan bukan cara sang pembuat film melihat korban tragedi 1965, melainkan sebuah bahasa untuk menggambarkan dendam dan trauma dari sebuah kejahatan yang terjadi dalam dunia fiksi film tersebut. Ketika alur cerita bergerak menuju 30 September 1965, film ini memasuki wilayah sejarah yang jauh lebih besar daripada kisah para tokoh fiksinya, sehingga Hanung sengaja membuat jarak yang tegas di antara keduanya.

Karya ini merupakan fiksi yang menggunakan sebuah peristiwa sejarah sebagai titik temu antara cerita personal dan ingatan kolektif. Justru atas kesadaran penuh betapa sensitif dan pentingnya tragedi tersebut, ia menegaskan tidak ingin berpura-pura bahwa karya fiksinya adalah sebuah kebenaran sejarah.

Di hadapan para tamu undangan Gala Premiere, Hanung Bramantyo menyampaikan pandangan pribadinya secara lugas.

“Saya memahami jika ada orang yang merasa pendekatan horor tidak tepat. Itu adalah pandangan yang sah. Tetapi saya berharap pilihan genre tidak otomatis dianggap sebagai bukti bahwa pembuat film tidak memiliki empati. Bagi saya, empati terhadap sejarah bukan hanya soal memilih genre yang dianggap serius,”pungkasnya.

“Saya membuat film ini bukan untuk menertawakan tragedi. Saya membuatnya untuk bercerita tentang bagaimana dendam dan kekuasaan dapat meninggalkan teror yang jauh lebih panjang daripada kehidupan orang-orang yang menciptakannya. Dan ketika film ini sampai pada 30 September 1965, saya ingin penonton berhenti sejenak dan menyadari: bahwa sebuah cerita fiksi sedang berhadapan dengan sebuah tragedi sejarah. Di situlah batas antara fiksi dan sejarah menjadi penting, dan di situlah tanggung jawab saya sebagai pembuat film.”

Pemeran utama, Baskara Mahendra, memerankan sosok Letnan Soegeng yang harus membedah motif kriminal di era penuh pergolakan ideologi tahun 1960-an merupakan tantangan artistik yang belum pernah ia hadapi sebelumnya. Baskara mengungkapkan bahwa saat pertama kali membaca draf naskah hingga melakoni proses syuting yang menguras fisik dan mental, dirinya berulang kali terkecoh oleh skenario yang dirancang sutradara.

“Memerankan Soegeng benar-benar pengalaman yang sangat unik bagi saya. Di film ini saya harus bermain peran di latar yang tidak familiar dengan saya, yaitu Indonesia tahun 1960-an, dan mengikuti investigasi Soegeng dengan banyaknya plot twist di film ini adalah pengalaman yang seru banget, bahkan saya yang ikut main filmnya nggak bisa nebak siapa dalangnya,” tutur Baskara Mahendra.

Setiap karakter yang tampil di layar, mulai dari tokoh masyarakat, pejabat lokal, aparat keamanan, hingga warga desa yang terlihat lugu, menyimpan rahasia gelap masing-masing. Di Desa Lobang Buaya, tidak ada orang yang benar-benar bersih, dan siapa pun bisa menjadi otak di balik rantai pembantaian berdarah dingin tersebut.

Film horor fiksi sejarah paling ditunggu tahun ini, “Lobang Buaya,” siap meneror layar lebar di XXI, CGV, Cinepolis, dan bioskop seluruh Indonesia mulai 1 Oktober 2026. (Ril/).

Admin

By Admin

error: Content is protected !!