JAKARTA | JacindoNews.com – Kemerdekaan Indonesia tidak hanya dirampas oleh bedil, kapal perang, dan meriam bangsa asing. Ada satu alat penjajahan yang jauh lebih efektif, lebih licik, dan lebih menyakitkan: tangan pribumi sendiri yang dipakai untuk menundukkan sesama bangsanya. Dalam sejarah kolonial, figur itu bernama mandor. Ia bukan sekadar pengawas kerja di kebun tebu atau perkebunan karet. Ia adalah simbol bagaimana penjajah memahami satu hal mendasar tentang bangsa terjajah: bahwa untuk menaklukkan rakyat, tidak selalu diperlukan tentara asing. Cukup ciptakan segelintir orang lokal yang diberi sedikit kuasa, sedikit fasilitas, sedikit pengakuan, lalu biarkan mereka mengendalikan saudara-saudaranya sendiri. Di situlah luka sejarah bangsa ini mulai bernanah. Mandor menjadi wajah paling nyata dari kolonialisme yang menyusup melalui relasi sosial. Ia adalah bukti bahwa penjajahan paling efektif bukanlah yang datang dari luar, melainkan yang tumbuh dari dalam masyarakat sendiri, dibungkus seragam kekuasaan kecil yang membuat manusia lupa pada akar solidaritasnya.
Kolonialisme Belanda memahami psikologi kekuasaan dengan sangat cermat. Mereka tahu bahwa rakyat yang lapar, tertekan, dan terpecah akan mudah dikendalikan jika diberi struktur hierarki semu. Mandor adalah produk rekayasa itu. Ia diciptakan sebagai lapisan antara penguasa dan rakyat, diberi hak memerintah, diberi kewenangan menghukum, diberi status sosial sedikit lebih tinggi dari buruh biasa. Tetapi justru di situlah jebakan besarnya. Mandor tidak pernah benar-benar menjadi bagian dari kelas penguasa. Ia hanya alat. Boneka yang diberi ilusi kehormatan agar bersedia menjalankan kepentingan tuannya. Tragisnya, banyak yang terjebak dalam ilusi itu. Mereka merasa naik derajat hanya karena bisa membentak sesama pribumi. Mereka merasa mulia karena dipercaya administratur kolonial. Padahal mereka hanya baut kecil dalam mesin penindasan raksasa. Dan seperti baut lain, ketika rusak atau tak lagi berguna, mereka akan diganti begitu saja. Kolonialisme tidak pernah menghormati mandor; kolonialisme hanya memanfaatkan mereka.
Sejarah mencatat bagaimana sistem tanam paksa berjalan bukan semata karena kekuatan militer Belanda, tetapi karena adanya tangan-tangan lokal yang memastikan perintah itu ditaati. Mandor menjadi ujung tombak disiplin brutal. Mereka memastikan rakyat memenuhi kuota, menyerahkan hasil bumi, bekerja melebihi batas fisik, bahkan menerima hukuman ketika dianggap lalai. Banyak kisah lisan di berbagai daerah menceritakan ketakutan masyarakat terhadap sosok mandor melebihi ketakutan pada orang Belanda sendiri. Ini bukan tanpa alasan. Penjajah asing masih terasa jauh, dingin, abstrak. Tetapi mandor hadir setiap hari, mengawasi, menekan, memarahi, menghukum. Ia adalah wajah penjajahan yang paling dekat. Dan kedekatan itulah yang membuat luka sosialnya jauh lebih dalam. Ketika penindasan datang dari orang asing, rakyat bisa bersatu melawan. Namun ketika penindasan dilakukan oleh sesama anak bangsa, yang lahir adalah kebingungan, trauma, dan retaknya solidaritas sosial. Inilah warisan psikologis paling berbahaya dari sistem mandor.
Yang paling menyedihkan bukan hanya tindakan para mandor masa lalu, melainkan bagaimana sebagian masyarakat hari ini masih gagal membaca sejarah mereka secara kritis. Ada yang membanggakan leluhur sebagai “mandor besar”, seolah jabatan itu identik dengan prestasi luhur. Kebanggaan semacam ini harus dikaji ulang. Bangga pada kerja keras leluhur tentu sah. Bangga pada kemampuan memimpin juga wajar. Tetapi membanggakan posisi historis tanpa memahami konteksnya adalah bentuk amnesia sejarah yang berbahaya. Kita tidak bisa menilai masa lalu hanya dari status sosial formal. Menjadi mandor pada era kolonial bukan sekadar profesi administratif. Dalam banyak kasus, itu berarti menjadi bagian dari struktur penaklukan. Kalau hari ini ada romantisasi terhadap posisi tersebut tanpa refleksi moral, maka itu menunjukkan satu hal: bangsa ini masih belum selesai berdamai dengan sejarah kolonialnya sendiri. Kita terlalu sering mengagungkan simbol kuasa tanpa bertanya kuasa itu dipakai untuk siapa dan untuk tujuan apa.
Masalah terbesar dari mentalitas mandor bukan terletak pada jabatannya, tetapi pada pola pikir yang diwariskannya. Mentalitas ini hidup ketika seseorang merasa hebat karena bisa menekan yang lemah, namun tunduk total pada yang kuat. Ia muncul dalam birokrasi, organisasi, perusahaan, bahkan komunitas kecil. Cirinya jelas: keras ke bawah, lembek ke atas. Galak pada bawahan, patuh membuta pada atasan. Berani menindas yang tak berdaya, tetapi kehilangan suara di hadapan otoritas besar. Ini bukan sekadar perilaku buruk individu. Ini warisan struktur kolonial yang menanamkan logika bahwa kekuasaan adalah alat dominasi, bukan amanah pelayanan. Selama mentalitas ini masih dipelihara, bangsa ini belum benar-benar merdeka secara psikologis. Kita mungkin sudah mengusir penjajah secara fisik, tetapi pola relasi kolonialnya masih bercokol di kepala banyak orang. Dan itu jauh lebih sulit dilawan.
Kolonialisme tidak selalu meninggalkan bekas dalam bentuk bangunan tua atau arsip sejarah. Kadang ia hidup dalam karakter sosial yang diwariskan lintas generasi. Ketika seseorang merasa harga dirinya naik karena bisa mengendalikan sesamanya atas nama jabatan kecil, di situlah jejak kolonial bekerja. Mentalitas mandor mengajarkan bahwa otoritas adalah tiket untuk merasa lebih manusia daripada orang lain. Ia membentuk budaya pamer kuasa yang sering kita lihat sampai hari ini. Dari pengawas proyek yang gemar membentak, aparat kecil yang sok berkuasa, hingga pemimpin komunitas yang merasa dirinya tak tersentuh kritik—semuanya menunjukkan pola serupa. Ini bukan kebetulan. Ini refleksi panjang dari budaya kolonial yang gagal kita bongkar secara tuntas. Kita mewarisi negara merdeka, tetapi belum sepenuhnya mewarisi kesadaran merdeka.
Bahaya terbesar ketika sejarah mandor tidak dibaca dengan jernih adalah munculnya normalisasi penindasan. Orang mulai menganggap sikap keras, kasar, dan represif sebagai tanda kepemimpinan. Mereka mengira kemampuan menakut-nakuti bawahan adalah bukti ketegasan. Padahal sejarah menunjukkan sebaliknya. Kepemimpinan yang dibangun di atas rasa takut hanya menghasilkan kepatuhan semu. Ia tidak menciptakan loyalitas, apalagi penghormatan. Mandor kolonial mungkin berhasil memenuhi target produksi, tetapi mereka gagal membangun kepercayaan sosial. Mereka dikenang bukan karena kebijaksanaan, melainkan karena luka yang ditinggalkan. Jika hari ini kita masih mengidolakan pola kepemimpinan seperti itu, maka sesungguhnya kita sedang mengulang logika penjajahan dalam bentuk baru.
Ada alasan mengapa bangsa-bangsa yang pernah dijajah harus sangat serius mempelajari sejarah kolaborasi internal. Penjajahan tidak pernah berhasil hanya karena kekuatan luar. Ia berhasil karena menemukan kaki tangan di dalam. Mereka yang rela menjadi perpanjangan tangan penindas demi sedikit keuntungan pribadi. Fenomena ini universal. Dari Afrika, Asia, hingga Amerika Latin, pola yang sama terus berulang. Indonesia pun tidak terkecuali. Mandor hanyalah salah satu simbol lokal dari pola besar itu. Karena itulah kritik terhadap mentalitas mandor bukan serangan pada profesi modern atau garis keturunan tertentu. Ini adalah peringatan terhadap kecenderungan manusia untuk menjual solidaritas demi privilese sesaat.
Bangsa yang gagal mengkritisi kolaborator masa lalunya berisiko melahirkan kolaborator baru di masa depan. Mereka mungkin tidak lagi memakai topi perkebunan kolonial atau membawa cambuk. Mereka bisa hadir dalam jas rapi, kursi birokrasi, struktur organisasi, atau jabatan sosial modern. Tetapi logikanya sama: menekan rakyat kecil demi menyenangkan pemegang kuasa yang lebih tinggi. Inilah bentuk penjajahan kontemporer yang sering tak disadari. Ia tidak datang lewat kapal asing, melainkan lewat budaya tunduk pada otoritas tanpa keberanian moral untuk melawan ketidakadilan.
Kita harus jujur mengakui bahwa bangsa ini kadang terlalu mudah terpukau oleh simbol kekuasaan. Sedikit jabatan, sedikit akses, sedikit kedekatan dengan pusat kuasa, lalu seseorang merasa dirinya istimewa. Mentalitas seperti ini persis fondasi yang dulu membuat sistem mandor berjalan efektif. Penjajah paham bahwa rasa superioritas semu adalah umpan yang sangat ampuh. Dan sampai hari ini, umpan itu masih sering dimakan. Selama masyarakat masih memuja status tanpa mempertanyakan integritas, selama itulah mentalitas mandor akan terus bereinkarnasi.
Membongkar sejarah mandor bukan berarti menebar kebencian pada keturunan siapa pun. Itu langkah malas dan tidak cerdas. Yang harus dibongkar adalah glorifikasi tanpa refleksi. Jika leluhur pernah berada dalam struktur problematis, justru kebesaran moral terletak pada keberanian mengakui konteks sejarah itu secara jujur. Tidak perlu malu, tapi juga tidak perlu memolesnya jadi kisah heroik. Kedewasaan sejarah lahir dari kemampuan melihat masa lalu apa adanya.
Bangsa besar bukan bangsa yang menyembunyikan bab gelapnya. Bangsa besar adalah bangsa yang berani menatap luka sejarahnya, mempelajarinya, lalu memastikan ia tidak terulang. Jika sejarah mandor hanya dijadikan nostalgia status sosial, maka kita sedang gagal belajar. Tetapi jika ia dijadikan cermin untuk memahami bagaimana kekuasaan kecil bisa merusak solidaritas besar, maka sejarah itu masih punya nilai pendidikan yang luar biasa.
Hari ini, tantangan kita bukan melawan kolonialisme fisik. Tantangan kita adalah melawan kolonialisme mental. Melawan kecenderungan untuk tunduk membabi buta pada otoritas. Melawan hasrat menindas demi pengakuan. Melawan godaan menjadi alat bagi sistem yang merugikan sesama. Dalam konteks itulah sejarah mandor menjadi sangat relevan. Ia bukan sekadar kisah masa lalu. Ia adalah alarm bagi masa kini.
Kita harus mendidik generasi muda bahwa kepemimpinan sejati bukan soal kemampuan memerintah, melainkan keberanian melindungi. Bukan soal membuat orang takut, melainkan membuat orang percaya. Mandor kolonial mengajarkan contoh buruk tentang bagaimana otoritas disalahgunakan. Tugas kita adalah memastikan model itu tidak diwariskan sebagai teladan.
Sudah saatnya bangsa ini berhenti memuja figur yang kuat hanya karena mereka kuat. Kita harus mulai menilai kekuasaan dari arah penggunaannya. Apakah ia dipakai untuk mengangkat martabat bersama, atau sekadar mempertebal ego pribadi? Pertanyaan inilah yang membedakan pemimpin dari mandor.
Jangan sampai sejarah penjajahan mengulang dirinya dalam bentuk yang lebih halus. Jangan sampai kita kembali melahirkan generasi yang bangga menjadi alat penekan sesamanya hanya demi secuil fasilitas. Jangan sampai anak cucu kita mewarisi mentalitas yang sama: tunduk pada kuasa, bengis pada yang lemah.
Pelajaran paling keras dari sejarah mandor sederhana namun brutal: bangsa ini pernah terluka bukan hanya oleh orang asing, tetapi oleh sebagian anak bangsanya sendiri yang memilih berdiri di sisi penindas. Jika kita sungguh ingin merdeka sepenuhnya, maka kemerdekaan itu harus dimulai dari keberanian menolak mentalitas tersebut—hari ini, sekarang juga.(Red)
