JAKARTA | JacindoNews – Senin (15/06/2026). Tampaknya pernyataan Alm. Gus Dur tentang Prabowo Subianto yang akan menjadi Presiden diusia lanjut adalah pernyataan hal pertama yang tepat, tetapi ada pernyataan hal kedua yang tidak disampaikannya ketika itu. Apakah tanda atas hal kedua itu akan terjadi berdasarkan situasi pemerintahan yang terkesan sebagai tumpukan masalah yang tumpang tindih dan benang kusut yang rumit atau ‘complicated’ sejak pemerintahan memulai debutnya lebih dari satu setengah tahun lalu ini.
Bila dirunut sejak awal akan menjadi relevan karena ternyata dengan alasan strategi kemenangan kontestasi Pilpres kemampuan menjadi pemimpin nomor satu di Republik ini juga harus “dikangkangi” oleh pemasangan Wapres yang tidak layak nan tidak setara karena sangat memalukan bagi martabat bangsa termasuk martabat kepemimpinan Prabowo sebagai Presiden yang kaliber ketangguhannya telah teruji.
Namun berbagai langkah dan sikap Prabowo dalam konteks menyikapi dilematis tersebut tampaknya mampu sedikit meredakan mereka yang merasa terhina dengan postur pasangan teramat timpang tersebut, salah satunya adalah karena perilaku para elit politik itu sendiri yang tidak berani mengusik “permainan” mantan presiden sebelumnya yang telah menguasai nyali politik mereka.
Prabowo juga terkesan cermat mengambil jarak terhadap wakilnya tersebut dan semakin menyadari ketidakberesan sepak terjang pendahulunya itu, sementara kemesraan hubungan dengan Megawati tampaknya juga menyeimbangkan moral politik Presiden yang sempat mengeluarkan yel “hidup Jokowi!” diawal kepemimpinannya.
Namun tiga bulan terakhir ini ujian pemerintahan Presiden Prabowo Subianto terus mengalami tekanan-tekanan dari sisi situasi ekonomi berkaitan dengan kebijakan yang bertujuan baik tetapi semakin kontroversial ditengah rakyat seperti MBG dan Koperasi Merah Putih serta cara penanganan pengendalian harga kebutuhan rakyat selain sembako juga energi seperti listrik, gas dan BBM termasuk gara-gara penanganan korupsi dan koruptor yang selalu menghantui pemerintahan ini dimana sebagian besar adalah warisan pemerintahan Presiden ke tujuh, Joko Widodo.
Disamping upaya monopoli satu pintu distribusi transaksi penjualan tambang dan minyak sawit lewat Danantara yang mekanismenya masih dalam penggodokan tetapi gaungnya telah merisaukan banyak pihak yang dalam hal ini bukan tentang benar atau salah tetapi tentang bagaimana regulasi bisnis sektor ini tidak menjadi alat “saling membunuh” karena daya tarik pikatnya pada pusaran nilai bertriliun-triliun tentu saja membutuhkan selain tangan dingin juga kewajaran dalam tata niaga eksekusinya.
Yang paling krusial adalah adanya anasir-anasir busuk berwajah dua didalam pemerintahan itu sendiri yang dapat dilihat dari caranya seakan membantu pemerintahan tetapi justru dengan merusak “image” Prabowo secara tidak langsung dengan kebijakan yang membuat rakyat merasa “disakiti” ketika muncul masalah seperti yang dilakukan oleh beberapa Menteri dan petinggi pejabat negara tertentu lewat gaya bahasa pernyataan yang aneh, tidak relevan bahkan cenderung memberi kesan seakan berasal dari Presiden pernyataannya tersebut dan berseliweran di media sosial sebagai jejak digital yang terasa pahit.
Prabowo Subianto acapkali terkesan tetap berusaha bersikap manis dan bersahabat pada orang-orang yang dimata rakyat nyata-nyata terlihat merancu bahkan menelikung dibelakang dirinya, entah karena memang tidak menyadarinya atau memang pola kepemimpinannya demikian, berbeda dengan alm. Gus Dur yang tanpa tendeng aling-aling menyebut nama sosok yang dipandang sebagai penghianat atau pengacau pemerintahannya.
Oleh karena itu bila tidak ada langkah-langkah pragmatis, terbuka dan terkawal oleh para loyalisnya maka kemungkinan akan terjadi hal kedua yang tidak sempat disampaikan oleh alm. Gus Dur yakni, “dan mungkin berhenti di tengah jalan seperti yang dialami saya…”, dan bila benar terjadi itulah yang membuat sejarah terulang kembali dengan sosok dan cerita yang berbeda ditengah ancaman Kekayaan atas negeri ini.
**Adian Radiatus (Pengamat Sosial & Politik)
