IMG 20261022 WA0013

JAKARTA | JacindoNews – Dua tahun sudah pemerintahan Presiden Prabowo mengurus negara termasuk rakyat didalamnya dengan berbagai “trial and error” dalam konteks, lihat-pelajari-hadapi dan koreksi dimana persoalan-persoalan senantiasa muncul dari yang remeh temeh hingga super serius dan dramatis.

Sebagai sosok tokoh yang selama puluhan tahun digambarkan sebagai penghianat, penculik bahkan pembunuh, harus diakui bahwa kemenangan Pilpres Prabowo Subianto adalah sesuatu yang meluluh lantakan segala gambaran buruk negatif terhadap pribadinya. Tak pernah ada bukti kejahatan kecuali fitnah politik belaka.

Namun musuh tak kenal mundur apalagi bila teritorial kekuasaannya tergerus dan itulah sebabnya beberapa kebijakan Prabowo selalu Presiden dan Kepala Negara patut diapresiasi dari sisi teori perang asimetris versi dalam negeri. Upaya mengacau opini publik dengan tujuan mendegradasi integritas dan komitmen Presiden Prabowo dilakukan baik berdiri sendiri maupun secara kolektif.

Dititik dua tahun pemerintahannya berlangsung, titik terang legitimasi kepemimpinannya mulai semakin jelas antara pembersihan dan perlawanan secara kasat mata maupun tersembunyi dibalik kepura-puraan oleh lawan-lawan politiknya yang bahkan ada didalam Kabinet dan struktur pemerintahan lainnya dimana sang komando berada diluarnya sebagai junjungan selama ini.

Dihadang oleh masalah bencana banjir bandang Sumatera, demo anarkis Agustus 2025, pembenahan Institusi Polri, korupsi fantastis MBG, petualang di Kejaksaan Agung, pembalakan hutan hingga kebakaran hutan gambut serta berbagai situasi yang mengharuskan resuffle kabinet membuat Presiden Prabowo semakin menyadari demikian rusaknya kondisi yang diwariskan pendahulunya dalam tata kelola pemerintahan yang baik dan transparansi.

Menghadapi semua itu tentu saja presiden tidak seorang diri, lewat pembantu-pembantu utamanya yang berintegritas, cakap menangani berbagai hambatan yang dihadapi, elegan dalam menjawab urusan yang ditugaskannya, sebut saja salah satunya, Sufmi Dasco Ahmad, yang selain sebagai Ketua Harian Partai Gerindra juga Wakil Ketua DPR senantiasa menjadi bagian terdepan mengawal tugas-tugas Negara baik yang spesifik mewakili Partai maupun mewakili rakyat menengahi tuntutan keadilan sesuai UU dan aturan yang berlaku termasuk turut menyelesaikan beberapa RUU sesuai Prolegnas.

Dengan dukungan tim yang solid, Presiden Prabowo masih harus menghadapi pihak-pihak lawan dalam mengelola kekuasaan di negeri ini, di Kabinet sendiri dipastikan tidak semuanya dapat dipercaya, loyalitas ganda, tidak peka dan mumpuni dalam memajukan kehidupan rakyat saat ini.

Sehingga tepat dua tahun dalam mengurus negara ini Presiden seakan tengah melawan dan menghadapi rintangan oleh mafia-mafia politik, ekonomi dan hukum yang masih terus bergentayangan di pusaran kekuasaan semata-mata, maka kewaspadaan Presiden dan Tim Kerja tak boleh lengah sedikitpun. (**).

**Adian Radiatus (pengamat sosial & politik). 

Admin

By Admin

error: Content is protected !!