JAKARTA | JacindoNews – Kontroversi transaksi pembelian saham milik Low Tuck Kwong dan Elaine Low sebagai pengendali PT. Bayan Resources Tbk kepada pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad atau dikenal sebagai Haji Isam lewat korporasi PT Jhonson Baratama sebanyak 10,08 miliar lembar saham setara 30,25% kepemilikan, telah mengundang polemik berbagai kalangan khususnya di mata para pengusaha dan para pelaku dunia saham di lantai Bursa.
Kejanggalan utama sorotan pada transaksi ini adalah pada harga jual yang secara akal sehat seorang pengusaha level apapun untuk produk barang bagus dan laku tidaklah mungkin dilepas pada harga yang sangat tidak wajar termasuk komoditi batu bara ini.
Maka dari apa yang merebak di kalangan para pebisnis atas ketidak-wajaran “diskon” gede-gedean hingga sekitar 76,8 persen untuk komoditi salah satu sumber energi terbesar yang dibutuhkan oleh dunia ini adalah adanya misi kepentingan luar biasa dibalik transaksi yang dijalankan oleh Haji Isam terhadap Byan.
Ada kesan dan pesan khusus dari perilaku transaksi kedua belah pihak ini, yakni tidak ada signal dari jauh hari oleh pihak Bayan Resources termasuk pribadi LTK (Low Tuck Kwong) sekalipun akan adanya rencana menjual saham kepemilikannya, buat apa jual, tidak butuh dana apapun, mungkin kira-kira begitu terlontar di kalangan sahabat dalam tentunya, mungkin.
Akhirnya tak dapat dinafikan kalau kemudian Haji Isam sebagai pelaku bisnis tambang sejenis yang juga besar di Nikel dipandang dalam kasus transaksi ini tidaklah berdiri sendiri dan kemudian perkembangan rumor tak dapat dielakkan akan keterkaitan hubungan erat Haji Isam dengan Presiden Prabowo Subianto. Undercover mission?.
Apalagi dana tunai sedemikian besarnya meski sudah dapat diskon diatas tujuh puluh persen dikaitkan dengan sindikasi pinjaman oleh bank Mandiri ke konsorsium perusahaan Haji Isam dengan nilai yang mendekati capaian sebesar 26 Triliun Rupiah.
Tentu saja tidaklah mengherankan bila publik melihat adanya benang merah pada kedua aktifitas bisnis ini dan semakin menambah sensasi rumornya sehingga sedikit banyak dampak citra negatif terhadap lembaga kepresidenan langsung atau tidak langsung akan semakin hadir khususnya dikalangan pebisnis baik papan atas maupun menengah bahkan mereka yang berada dibawah.
Dalam kaitan keseluruhan integritas tinggi yang selama ini melekat pada Presiden Prabowo patut kiranya hadir penjelasan dan transparansi karena mencoba bersikap “dingin-dingin” saja dapat membuat ruang dunia usaha apalagi lintas regional juga turut membeku karena dinginnya aroma transaksi pembelian saham Byan yang ditengarai nama Presiden telah dipinjam dibaliknya. Istana sebaiknya angkat bicara. (Ril/).
**Adian Radiatus. (Pengamat Sosial & Politik).
