JAKARTA | JacindoNews – Kamis (28/05/2026). Sebuah film yang dikategorikan dokumenter berjudul Pesta Babi menjadi pembicaraan hangat diruang publik karena isinya cenderung bukan tentang pesta makan babi semata tapi ternyata tentang penggunaan lahan hutan di Papua Selatan secara besar-besaran seluas kurang lebih 480 ribu hektar sebagai bagian dari total 2 juta hektar yang ditargetkan oleh Proyek Strategis Nasional yaitu Food Estate dan swasembada gula.

Tampaknya film tersebut cenderung bermotifkan protes kepada pemerintah selaku pembuat sekaligus eksekutor kebijakan terkait pemanfaatan lahan yang ditengarai merusak ekosistem habitat dan juga kehidupan tradisional suku pedalaman disana, namun sayangnya kecenderungan provokatif dalam narasi dan dramatisasi lebih terasa dominan ketimbang maksud “baik” si pembuat film.

Film dalam konteks cinematografi memang pembuatannya dibutuhkan warna konflik kepentingan sehingga memungkinkan munculnya sensasi sebagai sebuah karya yang menarik penonton termasuk pemberian judulnya itu sendiri, namun sayangnya secara tidak langsung judul itu dapat merusak citra masyarakat Papua yang jauh lebih suka saling menghormati sebagai sesama saudara se tanah air.

Secara implisit tampaknya pembuatan film Pesta Babi ini bertujuan selain kritik dan protes, disisi lain terkesan niat menghasut apalagi setelah tanggapan Uskup Petrus Canisius Mandagi yang tidak setuju dengan konten tayangan film tersebut, terlalu jauh dari fakta yang ada disana apalagi ada bagian yang mengaitkan pihak Gereja padahal tidak tahu menahu sama sekali. Sangat disayangkan bila demikian.

Pemerintah atau Presiden bukanlah begal hutan yang hanya mengambil hasil terus ditinggal begitu saja seperti kebanyakan para petualang hutan dan tambang, tetapi justru pembukaan kawasan hutan secara efektif sebagai lumbung pangan atau food estate serta perkebunan tebu bagi swasembada gula. Semua itu untuk kebutuhan rakyat dimasa depan yang sudah pasti.

Bila demikian halnya, lantas apakah tujuan pembuatan film itu akan mengenai sasarannya, apalagi ketika sebuah pertanyaan diajukan “siapa pendonor dibalik film itu?” dan bukannya balik bertanya, “dana Jenderal darimana?”, sebuah bantahan yang tampaknya sedungu babi itu sendiri dan lantas kita bertanya pula, Pesta Babi itu, Pesta Siapa?. (**).

**Adian Radiatus (pengamat sosial dan politik). 

By Admin

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!